“Transformasi ini sejalan dengan komitmen Polri membangun pemolisian modern. Polri mendorong model pelayanan yang dekat dengan masyarakat melalui penguatan fungsi Pemolisian Masyarakat (Polmas),” jelasnya.
Pendekatan tersebut membuat polisi lebih aktif menjalin komunikasi, bekerja sama, dan hadir menyelesaikan persoalan.
Paradigma ini juga menempatkan polisi sebagai pelayan, bukan sekadar penjaga keamanan.
Menurutnya, contoh penerapan terlihat dalam penanganan unjuk rasa.
“Polri didorong memastikan hak penyampaian pendapat berjalan aman dan tertib tanpa mengesampingkan pelayanan publik,” ucapnya.
Irjen Anwar juga menilai polisi kini harus merespons cepat dinamika yang makin kompleks, baik nasional maupun global.
Kemudian, stabilitas dalam negeri menjadi kunci ketahanan nasional, sehingga SDM berkarakter dibutuhkan.
Kurikulum pelatihan disusun berdasarkan riset “Rekonstruksi Jati Diri Bangsa Merajut Nusantara.” Riset tersebut melahirkan tiga pilar kecerdasan SIK: spiritual, intelektual, dan kultural.
“Melalui pilar itu, pelatihan menargetkan tiga kompetensi penting: etik, teknis, dan kepemimpinan,” pungkasnya.














