Dimulai dari kesadaran akan tingginya pengeluaran rumah tangga untuk bumbu dapur seperti cabai, tomat, dan bawang merah.
Yang mencapai Rp72 juta per bulan. Pemerintah Desa menginisiasi pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan utama.
Warga kemudian dibimbing melalui Sekolah Lapang Pertanian, dibentuknya Kelompok Wanita Tani (KWT).
Lalu, pendampingan dari penyuluh pertanian. Semua dilandasi dengan prinsip kahayang hingga kaboga.
Sinkron dengan Program Pemerintah Jawa Barat
Menurut Dadi, Panca Gawe memiliki semangat yang selaras dengan program Pancawaluya yang digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Kalau di Jawa Barat ada Pancawaluya, di Jalatrang ada Pancagawe. Harapannya sinkron, agar desa dan provinsi berjalan seiring menuju kemandirian,” ucapnya.
Hal ini semakin menunjukkan bahwa filosofi lokal pun bisa menjadi strategi pembangunan desa yang efektif, bahkan ketika bersanding dengan kebijakan di level provinsi dan nasional.
Dari Falsafah Menjadi Bukti Nyata
Kini, dengan filosofi Panca Gawe sebagai panduan hidup dan kerja, Desa Jalatrang bukan hanya berhasil menjuarai lomba nasional P2B.
Akan tetapi, berhasil menumbuhkan semangat kolektif untuk mandiri secara ekonomi.
Sekitar 70 persen dari 1.870 rumah kini telah memanfaatkan pekarangan untuk budidaya pangan sendiri.
“Ini bukan semata-mata demi lomba,” tegas Dadi.
“Tapi untuk masa depan desa. Kami ingin ada kemandirian, ada ketahanan pangan, dan warga bisa kaboga hasil nyata dari kerja keras mereka.”














