Tidak berhenti di situ, ia juga harus memutar otak lantaran harga komoditas pendukung lainnya seperti minyak goreng, tepung terigu.
Kemudian, telur turut merangkak naik di pasaran.
Kenaikan biaya produksi yang bertubi-tubi ini memaksa Gun Snack untuk menyesuaikan harga jual produk matangnya ke konsumen.
Meski langkah ini pahit, Gunawan mengaku tidak punya pilihan lain demi menjaga keberlangsungan usahanya.
Meskipun demikian, kebijakan menaikkan harga ini ternyata belum sepenuhnya bisa diterima oleh pasar.
Gunawan memaparkan bahwa masih banyak pelanggan maupun reseller yang merasa keberatan dengan harga baru tersebut.
Oleh sebab itu, saat ini ia fokus menempuh langkah persuasif dengan memberikan sosialisasi kepada para mitra dan pembelinya.
”Saya terus menjalin komunikasi dengan para konsumen agar mereka memahami bahwa kenaikan harga ini murni karena melambungnya biaya bahan baku di lapangan,” pungkasnya.














