Dalam catatannya, Lasman mengenang perjalanan organisasi yang sempat diwarnai duka.
Dua panitia pelaksana sebelumnya, Yosep Hutabarat dan Henti Kasih, telah berpulang sebelum Munas terlaksana.
“Itu menjadi perenungan bagi kita semua untuk terus menjaga keberlanjutan organisasi ini,” ucapnya haru.
Organisasi IPJI Masih Segar dan Hidup
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina IPJI, Mayjen (Purn) Hendardji Soepandji, menyampaikan bahwa Munas menjadi indikator sehatnya sebuah organisasi.
“Jika IPJI mampu menggelar Munas secara reguler, artinya organisasi ini masih segar dan hidup,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Ia menegaskan, kekuatan IPJI terletak pada kualitas karya tulis anggotanya, bukan pada jumlah keanggotaan.
“Tulisan yang berkualitas akan selalu memiliki pembaca. Karena itu, karya IPJI harus aktual, tajam, dan terpercaya,” tegasnya.
Menurut Hendardji, tema Munas kali ini sangat relevan dengan tantangan zaman.
“Profesionalisme dan independensi jurnalis menjadi kunci menuju Indonesia emas,” ujarnya menambahkan.
Dalam sesi interaktif, Hendardji bahkan mengajukan pertanyaan seputar dunia jurnalistik yang berkaitan dengan Indonesia emas kepada peserta.
Suasana berubah seru ketika sebagian peserta gagal menjawab, namun beberapa berhasil mendapatkan hadiah langsung.
Sebagai tanda dimulainya Munas ke-V, Hendrji Soepardji secara resmi memukul gong, disambut gemuruh tepuk tangan seluruh hadirin.
Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan launching buku “Gerakan Nasional Berantas Narkoba (GNBN)” oleh tim GNBN.
Setelah itu, sidang pleno Munas dan sidang paripurna pertama resmi dimulai untuk merumuskan keputusan strategis IPJI lima tahun mendatang.
Dengan semangat kebersamaan, Munas ke-V IPJI diharapkan mampu melahirkan pemimpin baru yang menjadi nakhoda organisasi dan membawa IPJI berlayar menuju masa depan yang lebih gemilang.














