banner 720x220

Menjaga Dapur Tetap Ngebul: Alasan RI Impor ‘Grand Parent Stock’ Ayam dari Amerika Serikat

Sumber foto: BPMI Setpres
Sumber foto: BPMI Setpres

Produk ini bukan untuk dijual bebas di pasar tradisional, melainkan sebagai bahan baku vital bagi industri makanan olahan seperti sosis, nugget, dan bakso.

​”Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri. Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik; kita justru menjaga keseimbangan pasokan agar harga tetap stabil bagi konsumen,” tegas keterangan dalam sosialisasi ART.

​Jagung Spesial untuk Industri Mamin

​Selain ayam, stabilitas “dapur” nasional juga dijaga melalui akses impor jagung asal AS untuk kebutuhan industri makanan dan minuman (Mamin).

Mengingat sektor Mamin menyerap hingga 6,7 juta tenaga kerja dan berkontribusi besar pada PDB, kepastian bahan baku menjadi harga mati.

​Jagung dari AS dipilih karena memiliki spesifikasi dan standar mutu yang dibutuhkan mesin-mesin industri modern.

Sehingga proses produksi tetap efisien tanpa mengganggu pasar jagung pipilan dari petani lokal yang biasanya terserap untuk pakan ternak.

​Benteng Perlindungan Domestik

​Meski keran perdagangan dibuka lebih lebar, Indonesia tidak melepas kontrol begitu saja.

Melalui forum Council on Trade and Investment, Pemerintah memiliki hak untuk mengevaluasi jika terjadi lonjakan impor yang tidak wajar.

Instrumen hambatan tarif tambahan seperti safeguard dan antidumping tetap tersedia sebagai “rem darurat” jika eksistensi peternak atau petani lokal terancam.

​Melalui perjanjian ART ini, Indonesia tidak hanya sekadar berdagang, tapi sedang memperkuat fondasi industri pangannya agar tetap kompetitif di kancah global sekaligus memastikan piring nasi rakyat tetap terisi dengan harga terjangkau.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *