banner 720x220

Mengetuk Gerbang Itiqum Minan-Nar: Makna Mendalam Doa Hari ke-21 Ramadan

Foto: ilustrasi/kondusif.com_fauza
Foto: ilustrasi/kondusif.com_fauza

Mengapa petunjuk? Karena di fase akhir Ramadan seperti sekarang, godaan justru sering datang dalam bentuk halus.

Bisa jadi rasa malas yang tiba-tiba muncul, atau urusan persiapan lebaran yang mendadak terasa jauh lebih mendesak daripada sujud malam.

​Maka, kalimat berikutnya dalam doa tersebut menjadi sangat relevan:

“Dan janganlah Engkau beri jalan bagi setan untuk menguasaiku.”

Kita sadar betul bahwa setan tidak akan membiarkan seorang hamba meraih kemuliaan Lailatul Qadar tanpa perlawanan.

Mereka akan mencari celah sekecil apa pun agar fokus kita terbelah.

Dengan melantunkan doa ini, kita sebenarnya sedang membangun benteng pertahanan agar hati tetap terjaga hanya untuk Allah.

​Target akhirnya pun jelas: surga sebagai tempat istirahat yang sejati (manzilan wa maqîla).

Ini adalah pengingat bahwa segala rasa haus dan kantuk yang kita rasakan sekarang sifatnya hanya sementara.

Ada “rumah” yang sedang kita bangun dengan bata-bata amal di malam-malam ganjil ini.

​Jadi, di hari ke-21 ini, mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Mulailah masuk ke masjid atau sudut rumah yang tenang untuk beriktikaf.

Perpanjang durasi sujud, basahi bibir dengan zikir, dan biarkan doa hari ke-21 ini mengalir dari hati yang paling dalam.

Ingatlah pesan Ibnu Abbas RA bahwa kedermawanan dan semangat ibadah Rasulullah itu seperti angin yang berhembus kencang tak terbendung dan membawa berkah bagi siapa pun yang dilewatinya.

​Ramadan akan segera pamit. Pertanyaannya, akankah kita melepasnya dengan senyuman kemenangan atau justru dengan rasa sesal karena membiarkan malam-malam terbaik ini lewat begitu saja tanpa makna?

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *