Dampak luapan air ini mengancam sekitar 3.000 hektare lahan produktif yang menjadi tumpuan ekonomi warga.
”Dampaknya sangat luar biasa. Petani sering mengalami kerugian besar akibat gagal panen atau fuso. Jika ini dibiarkan, masyarakat akan menanggung dampak berkepanjangan,” kata Markun.
Lambannya Penanganan Lintas Wilayah
Sementara itu, Ketua APDESI Purwadadi, Pipin Holis, menyoroti bentangan Sungai Afur Cilisung yang melintasi Kota Banjar, Ciamis, hingga Pangandaran.
Ia menilai koordinasi saat ini masih sangat lemah, terutama dari pihak BBWS yang dianggap lamban di lapangan.
Kondisi ini diperkuat oleh pernyataan Anggota DPRD Kabupaten Ciamis, Endang Cahyadi.
Legislator dari Fraksi Nasdem ini mendorong Gubernur untuk mengambil peran sebagai dirigen antarwilayah.
”Pak Gubernur sangat dibutuhkan untuk mengoordinasikan daerah-daerah yang terdampak dan mengalokasikan anggaran normalisasi. Bayangkan, ada lahan yang sampai 5 kali gagal tanam. Ini bukan masalah sepele, ini menyangkut hidup orang banyak,” pungkas Endang.














