Justru, momentum ini digunakan untuk mengasah skill kewirausahaan para penghuni Lapas.
”Tujuan saya adalah memberikan keterampilan kecil namun nyata hasilnya. Minimal, ketika mereka bebas nanti, mereka sudah mandiri, punya modal keahlian, dan tidak lagi membingungkan pemerintah daerah dalam mencari kerja,” tegasnya.
Langkah ini juga menjadi strategi jitu untuk menekan angka residivis.
Dengan adanya kegiatan yang produktif, warga binaan termasuk sekitar 60 residivis yang ada saat ini menjadi lebih terkoordinasi dan fokus pada masa depan.
Apresiasi Pemerintah Daerah
Keberhasilan “ekspor” lokal ini mendapat acungan jempol dari Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Rudi, menyebutkan bahwa apa yang dilakukan Lapas Ciamis adalah bentuk nyata dari reformasi birokrasi yang humanis.
”Kami sangat mengapresiasi. Ini membuktikan bahwa pembinaan di Lapas Ciamis berjalan efektif. Mereka tidak hanya dibina secara spiritual di bulan Ramadan, tapi juga dibekali kemandirian ekonomi yang sangat dibutuhkan pasar,” ujar Rudi.
Acara yang juga diwarnai dengan santunan anak yatim ini ditutup dengan harapan besar: agar ‘New Lapas’ Ciamis terus mencetak ‘alumni’ yang siap berkarya, bukan lagi mereka yang kembali ke jalan yang salah.














