Hasilnya cukup berwarna: dokumen, barang bukti elektronik, satu unit mobil, bahkan aset properti.
Lengkap sudah, seakan kita sedang membaca daftar paket umrah VIP.
Tapi yang paling menarik justru bukan apa yang ditemukan, melainkan apa yang dihilangkan.
Di salah satu biro perjalanan, barang bukti mendadak raib. Seolah-olah ada “doa khusus” agar penyidik pulang dengan tangan hampa.
Kerugian Triliunan, Tapi Siapa Peduli?
Menurut perhitungan awal, negara berpotensi rugi lebih dari Rp1 triliun. Tapi di negeri kaya inj, angka triliunan bukan lagi berita mengejutkan lebih mirip angka rutinitas.
Sprindik umum sudah diteken sejak 8 Agustus, tapi tersangka? Belum diumumkan.
Publik hanya bisa berharap KPK tidak sekadar membuka bab pertama, lalu menutup buku ketika bab akhir terasa terlalu menakutkan.
Jamaah Membayar Waktu, Mafia Membayar Jabatan
Yang paling tragis, masyarakatlah yang harus membayar. Bukan dengan uang saja, tapi dengan waktu.
Waktu yang hilang karena antrean makin panjang, sementara mafia haji dapat “jalur cepat” menuju rekening pribadi.
Publik tentu berharap kasus ini tak berhenti di meja konferensi pers.
Sebab kalau tidak, kuota haji hanya akan jadi komoditas langka bukan untuk jamaah, tapi untuk mereka yang lihai memainkan dalil dan pasal.














