Coba perhatikan anyamannya yang rumit. Itulah simbol dari perjalanan hidup manusia yang penuh lika-liku dan khilaf.
Namun, saat kita membelah ketupat tersebut, kita akan menemukan bagian dalam yang putih bersih.
Pesannya sederhana tapi dalam: sejauh apa pun kesalahan yang kita perbuat, hari raya adalah momen untuk kembali putih dan suci melalui pintu maaf.
Meja Makan: Jembatan Rekonsiliasi
Di balik lezatnya hidangan ini, ada momen kebersamaan yang tak ternilai. Makan ketupat bersama adalah waktu di mana gawai biasanya disingkirkan.
Di meja makan itulah, sembari menyendok sambal goreng ati dan rendang, obrolan-obrolan hangat mengalir.
Pertanyaan “kapan nikah” atau “kerja di mana” yang biasanya terasa menjengkelkan, mendadak lumer bersama gurihnya santan.
Tradisi ini membuktikan bahwa makanan adalah bahasa universal.
Melalui ketupat, kita tidak hanya mengenyangkan perut, tapi juga memberi makan jiwa dengan rasa syukur dan kekeluargaan.
Tak heran, meskipun banyak hidangan modern bermunculan, posisi ketupat di hari raya tetap tak tergoyahkan. Tanpanya, Lebaran seperti kehilangan ruhnya.














