Dalam kondisi tersebut, pelaku merasa tidak boleh kalah, ingin menguasai pasangan, dan rela melakukan kekerasan ekstrem untuk mempertahankan dominasinya.
“Dalam kehidupan sehari-hari, pelaku bisa tampak pemarah, manipulatif, dan penuh kontrol terhadap pasangannya,” tambah Riza.
Menariknya, profesi Alvi sebagai jagal hewan juga diyakini berpengaruh terhadap keberaniannya melakukan mutilasi.
Kebiasaan menghadapi darah dan daging hewan membuat tindakannya terhadap manusia semakin dingin.
Upaya Menyembunyikan Jejak: Forensic Awareness Setengah Matang
Tidak hanya kejam, Alvi juga mencoba menutupi jejak. Potongan tubuh korban ia buang di sejumlah titik dengan harapan membingungkan penyidik.
Cara ini dikenal dalam kriminologi sebagai pembuangan instrumental, yakni tindakan sadar untuk mengaburkan investigasi.
Namun, strategi itu justru mengungkap adanya forensic awareness yang setengah matang. Ada niat kuat untuk menghilangkan bukti, tetapi juga terlihat kepanikan yang membuat polisi cepat membaca pola kejahatan.
Kasus Mutilasi Mojokerto Cermin Sisi Gelap Relasi Manusia
Tragedi ini tidak berhenti sebagai kasus kriminal semata. Ia menjadi refleksi tentang betapa rapuhnya relasi ketika dibangun di atas konflik, dominasi, dan tekanan ekonomi. Ketika kendali diri runtuh, kekerasan ekstrem bisa muncul dari orang terdekat.
“Kasus ini memberi peringatan bahwa menjaga kesehatan mental dan membangun hubungan sehat adalah benteng penting agar tragedi serupa tidak berulang,” pungkas Riza.
Kasus mutilasi Mojokerto bukan hanya tentang kejahatan sadis, tetapi juga membuka diskusi soal kesehatan mental, pola relasi toxic, hingga upaya pelaku menutupi kejahatan.
Dari potongan tubuh yang mencapai 310 bagian hingga analisis psikologi forensik, peristiwa ini meninggalkan catatan kelam: sisi gelap manusia bisa muncul kapan saja, bahkan dari orang terdekat.














