Jika sebelumnya bisa mengantongi Rp500-600 ribu per hari, kini saat ramai hanya Rp400 ribu, dan saat sepi tinggal Rp200 ribu.
Meski begitu, ia tak pernah mengeluh. “Masih bersyukur. Yang penting bisa terus jalan,” katanya.
Selain berjualan keliling, Kasum juga membuka warung mie ayam di rumah dan menyerahkan pengelolaannya kepada istrinya.
Kasum memasak sendiri semua bahan seperti daging dan sayuran, kecuali mie yang ia beli dari produsen.
Selain itu, modal usaha pun sepenuhnya berasal dari hasil jerih payahnya sendiri.
Pensiun? Mie Ayam Tetap Jalan, Tapi Pakai Karyawan
Sementara itu, saat ditanya soal masa depan, Kasum mengaku ingin mengurangi aktivitas keliling.
“Nanti penginnya di rumah aja, punya usaha lain yang bisa dijalankan dari rumah. Tapi mie ayam ini tetap jalan. Paling nanti ada karyawan yang nerusin,” ujarnya.
Kisah Kasum adalah potret nyata tentang bagaimana semangat wirausaha tak selalu berarti ekspansi besar-besaran.
Ada yang cukup dengan keberkahan dan ketulusan dalam melayani.
Di tengah dunia yang serba cepat, barangkali kisah seperti ini adalah nafas yang menyejukkan.














