Irjen Rudi juga menekankan bahwa identitas polisi bukan sesuatu yang statis.
Dalam perspektif fenomenologi, identitas terbentuk dan berubah melalui pengalaman serta refleksi diri.
“Identitas polisi di Mesuji lahir dari ambiguitas. Mereka ingin melayani, namun sering ditolak atau dicurigai. Di sanalah muncul pergulatan batin antara panggilan moral dan tekanan struktural,” katanya.
Menurutnya, di tengah kesunyian Mesuji yang terpencil, makna menjadi polisi tidak lagi sekadar seragam atau pangkat.
Ia berubah menjadi tanggung jawab moral dan kesadaran diri yang mendalam.
“Dalam diam itu, seorang polisi belajar bahwa tugas bukan sekadar kewajiban. Tugas justru menguji siapa dirinya sebenarnya,” tutur Irjen Rudi.
Polda Jabar Bahas Identitas Polisi Mesuji
Ia menjelaskan, identitas profesional polisi dibentuk oleh aturan dan etika institusi.
Namun di Mesuji, semua norma itu harus diterjemahkan secara kontekstual agar tetap relevan dan manusiawi.
Sementara itu, identitas sosial polisi di Mesuji tumbuh di tengah hubungan penuh ketegangan dengan masyarakat.
Polisi juga kerap dipersepsikan ambigu kadang pelindung, kadang perpanjangan tangan kekuasaan luar.
“Ketika seorang polisi menghadapi warga asli Mesuji yang menggantungkan hidup pada tanah yang dianggap milik negara, ia sesungguhnya sedang berhadapan dengan dirinya sendiri,” ujar Rudi.
Dalam situasi itu, lanjutnya, tampak wajah paling jujur dari realitas sosial Indonesia: ketimpangan, alienasi, dan perjuangan mencari legitimasi moral di tengah konflik panjang.
Melalui disertasinya, Kapolda Jabar ingin mengingatkan bahwa menjadi polisi bukan hanya soal kewenangan, tetapi juga soal kemanusiaan.
Polisi juga, katanya, adalah bagian dari masyarakat yang juga merasakan luka dan harapan yang sama.














