Ciamis,Kondusif.com,– Desa Karangkamulyan kembali menjadi sorotan setelah berhasil menghidupkan gerakan “Maghrib Mengaji” dan salat berjamaah secara massif. Program yang digagas Bupati Ciamis itu kini menjadi teladan karena berhasil diterapkan secara konsisten dan menyeluruh di tingkat desa. Kepala Desa (Kades) Karangkamulyan, Uus Uswandi, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin sekadar memasang spanduk ajakan.
Mereka memilih menjalankan konsep yang benar-benar menyentuh akar persoalan, membangun budaya ke masjid sejak dini.
Dalam pesan singkat kepada Kondusif.com, Kamis (11/12/2025), Kuwu Anom sapaan akrab Uus menyampaikan bahwa implementasi program ini sudah berjalan sejak beberapa bulan lalu, namun puncak penguatan dilakukan sepanjang Desember 2025.
Ia langsung mengumpulkan seluruh unsur desa dari Ketua MUI, Ketua DKM, para guru, kepala sekolah, ketua RT/RW, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
“Instruksi kami jelas. Semua anak dari kober, TK, SD, sampai SMP wajib berada di masjid sebelum azan Maghrib. Mereka sholawatan, salat berjamaah, lalu mengaji hingga setelah Isya. Baru setelah itu pulang,” tegas Kuwu Anom.
Langkah tegas itu, menurutnya, hanya akan efektif jika seluruh stakeholder turun tangan.
Ia menegaskan program akan sia-sia jika hanya berhenti pada pemasangan spanduk atau seremonial.
Kades Karangkamulyan: ‘Masjid Lebih Hidup’
Karena itulah, desa menggelar rapat lintas lembaga agar semua pihak memiliki komitmen yang sama.
“Alhamdulillah sekarang masjid di Desa Karangkamulyan mulai terisi penuh oleh anak-anak dan orang tua. Kenaikannya sangat signifikan,” ujar Kuwu Anom dengan bangga.
Ia menilai, konsep yang diterapkan desa lebih berdampak daripada sekadar ajakan publik.
Menurutnya, instruksi pemerintah daerah hanya akan efektif jika diterjemahkan ke dalam tindakan nyata di tingkat desa.
Karena itu, ia berharap model Karangkamulyan bisa menginspirasi desa-desa lain di Ciamis.














