Ia pun meminta fasilitas kesehatan tidak perlu khawatir akan kehabisan pasokan.
”Apabila terjadi kekurangan vaksin, puskesmas bisa langsung meminta ke Dinas Kesehatan Provinsi Jabar,” tegasnya.
Menanti Jarum Suntik
Meski vaksin tersedia, pelaksanaan ORI di lapangan masih menunggu lampu hijau distribusi alat suntik auto disable syringe (ADS) dari Kementerian Kesehatan.
Kabar baiknya, pusat telah selesai memverifikasi alat tersebut dan siap mengirimkannya ke Jawa Barat dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Vini memberikan instruksi keras kepada rumah sakit dan puskesmas agar melaporkan setiap temuan suspek campak dalam waktu kurang dari 24 jam.
Ia meminta tenaga medis segera melakukan langkah mitigasi begitu menemukan gejala:
1. Isolasi ketat pasien minimal tujuh hari sejak munculnya ruam merah.
2. Intervensi gizi melalui pemberian vitamin A sesuai dosis usia.
3. Asupan tinggi protein dan kalori untuk memperkuat imun pasien.
Pesan untuk Orang Tua
Vini juga mengingatkan masyarakat agar tidak abai memeriksa buku kesehatan anak.
Menurutnya, tidak ada kata terlambat untuk melengkapi imunisasi demi mencegah komplikasi berbahaya.
Sebagai pengingat, protokol imunisasi campak standar wajib diberikan sebanyak tiga kali: saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika menginjak kelas 1 SD.
“Segera lengkapi imunisasi di posyandu atau puskesmas terdekat,” pungkasnya.














