Selain mencukupi kebutuhan dapur sendiri, sebagian hasil panen mulai dijual di pasar sekitar.
“Ini tentang kemandirian. Kami ingin masyarakat tidak hanya mengonsumsi hasilnya, tapi juga menjadikannya sebagai penghasilan tambahan. Maka dari itu, arah ke depan adalah menjadikan Jalatrang sebagai desa produktif bawang merah,” lanjut Dadi.
Untuk mendukung mimpi ini, berbagai pihak telah digandeng.
Dari penyuluh pertanian, KWT (Kelompok Wanita Tani), hingga akademisi kampus lokal, semua diberdayakan agar warga semakin terlatih dalam budidaya komoditas hortikultura, terutama bawang merah.
Bahkan, desa juga mulai menjajaki kerja sama dengan pihak swasta dan pemerintah daerah agar distribusi hasil panen bisa lebih optimal.
“Kami juga sedang memperkuat branding desa agar punya ciri khas yang jelas. Salah satunya ya lewat komoditas bawang merah ini. Mudah-mudahan menjadi identitas baru Jalatrang ke depan,” kata Dadi.














