KONDUSIF.COM– Jahe,- Siapa yang menyangka, rempah sederhana yang sering diseduh menjadi minuman hangat di rumah ternyata pernah disebut dalam Al-Qur’an. Jahe, atau dalam bahasa Arab disebut zanjabil, bukan sekadar rimpang yang menghangatkan tubuh, tapi juga disebut sebagai bagian dari kenikmatan surga bagi orang-orang beriman.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 17:
“Dan mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.”
(QS. Al-Insan [76]:17)
Penyebutan singkat ini juga bukan tanpa makna. Dalam literatur tafsir klasik, jahe disebut sebagai simbol kenikmatan yang lembut, menyegarkan, dan menenangkan.
Ia menjadi lambang keseimbangan tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin seperti keimanan yang membawa ketenangan jiwa.
Dari Dapur Bumi ke Kenikmatan Surga
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa minuman yang bercampur jahe di surga menggambarkan cita rasa yang menyegarkan dan harum.
Sementara Al-Qurthubi menulis bahwa zanjabil di surga bukanlah seperti jahe duniawi, melainkan minuman istimewa yang menghangatkan hati para penghuni surga.
Jahe menjadi pengingat bahwa Allah SWT mampu mengangkat sesuatu yang sederhana di bumi menjadi simbol kemuliaan di langit.
Dari sepotong rimpang kecil yang tumbuh di tanah, tersimpan pelajaran besar tentang kesyukuran, kesederhanaan, dan keseimbangan hidup.
Dibuktikan Ilmu Pengetahuan Modern
Lebih lanjut, selain makna spiritualnya, manfaat jahe juga diakui oleh sains modern.
Beragam penelitian menunjukkan bahwa kandungan aktif dalam jahe seperti gingerol dan shogaol memiliki efek anti-inflamasi, antioksidan, dan antinyeri alami.
Penelitian yang dimuat dalam National Library of Medicine (NIH) menyebutkan bahwa konsumsi jahe dapat membantu mengurangi mual, memperlancar pencernaan, serta menurunkan kadar kolesterol jahat.
Jahe juga terbukti membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Meski begitu, para ahli mengingatkan agar tidak berlebihan.














