Dari kalangan akademisi, Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono menekankan pentingnya Pancasila sebagai jalan lurus sebagaimana pemikiran Bung Hatta.
“Polri harus menjadi role model perekat bangsa,” katanya di hadapan peserta seminar.
Senada, sejarawan Prof. Dr. Anhar Gonggong menyoroti akar sejarah kebhayangkaraan dan peran Polri dalam menjaga nilai kejujuran serta semangat antikorupsi.
Salah satu peserta seminar, Kushartono, menilai bahwa penyelesaian persoalan bangsa bukan dengan saling menyalahkan, melainkan dengan introspeksi diri.
Ia bahkan mengusulkan adanya “tobat nasional” agar bangsa kembali ke jati dirinya.
Komisioner Kompolnas, Supardi Hamid, turut menegaskan bahwa penguatan karakter anggota Polri harus diiringi tata kelola kelembagaan yang transparan dan adil.
“Reformasi SDM Polri tidak bisa lepas dari tata kelola yang berkeadilan dan akuntabel,” tegasnya.
Menutup seminar, Irjen Anwar juga menekankan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman anggota tentang jati diri bangsa, membangun komitmen kolektif, dan menginternalisasi nilai sadar berkarakter dalam setiap tugas.
“Dengan begitu, Polri akan menjadi institusi yang responsif, berkarakter kuat, dan semakin dipercaya masyarakat,” pungkasnya.














