Berbagai program seperti pembagian makanan dan minuman gratis, penyediaan hiburan bagi pemudik, hingga fasilitas kesehatan dan tempat istirahat menjadi bukti nyata kehadiran Polri yang tidak hanya menjaga, tetapi juga melayani dengan empati.
“Langkah ini bukan sekadar bantuan materi, tetapi bentuk dukungan moral bagi para pemudik. Ini menunjukkan bahwa Polri hadir sebagai pengayom yang benar-benar memahami kebutuhan masyarakat di lapangan,” jelas Ghani.
Dari perspektif hak asasi manusia, ia menegaskan bahwa pelayanan yang diberikan Polres Ciamis merupakan bagian dari pemenuhan hak dasar masyarakat, yakni rasa aman, perlindungan, dan perlakuan yang manusiawi di ruang publik.
“Ketika polisi hadir dengan pendekatan yang humanis, memberikan rasa aman dan kenyamanan, maka di situlah kepercayaan publik tumbuh. Ini adalah wujud nyata negara hadir untuk rakyat,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, BEM Nusantara menyatakan komitmennya untuk terus mendukung sekaligus mengawal praktik pelayanan publik yang progresif dan berpihak kepada masyarakat.
Keberhasilan Polres Ciamis dalam Operasi Ketupat Lodaya 2026 pun dinilai layak menjadi contoh nasional dalam pengelolaan arus mudik, bahwa pengamanan yang kuat dapat berjalan beriringan dengan pendekatan humanis yang menyentuh sisi kemanusiaan.
“Ini bukan hanya tentang kelancaran lalu lintas, tetapi tentang bagaimana menghadirkan rasa aman, nyaman, dan kebahagiaan bagi masyarakat. Polres Ciamis telah membuktikan itu,” pungkasnya.***
Penulis: Hasna Ismi Lutfiyah














