Cecep menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan hitungan di atas kertas.
Kementerian Agama tetap menyebarkan tim pemantau di 117 titik dari Sabang sampai Merauke untuk membuktikan posisi hilal secara fisik.
”Dalam tradisi kita, hisab bertugas memberikan informasi awal, sedangkan rukyat menjadi garda konfirmasi di lapangan. Namun secara teoritis, jika angka-angkanya belum masuk kriteria, maka hilal hampir pasti tidak akan terlihat,” tambahnya.
Sebagai contoh konkret, di wilayah Jakarta Pusat, posisi hilal saat matahari terbenam hanya setinggi 1,95 derajat.
Angka ini masih sangat jauh dari syarat minimal visibilitas yang ditetapkan.
Oleh karena itu, jika sore ini seluruh tim pemantau gagal melihat hilal.
Maka bulan Ramadan secara otomatis akan digenapkan menjadi 30 hari.
Keputusan resmi mengenai kapan gema takbir akan berkumandang tetap menunggu hasil musyawarah para ulama dan pakar dalam Sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama.














