Para mubalig mengajak para santri dan generasi muda untuk senantiasa menghormati guru dan orang tua sebagai sumber ilmu dan teladan dalam kehidupan.
“Tanpa guru, kita tidak akan mengenal ilmu agama, mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa, zakat, hingga ibadah lainnya. Karena itu, hormati dan muliakan para pendidik kita,” pesannya.
Selain itu, disampaikan pula bahwa generasi saat ini menghadapi tantangan besar di era digitalisasi. Kemajuan teknologi, jika tidak disikapi dengan bijak, dapat menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai agama.
Dalam tausiah tersebut juga diingatkan bahwa fenomena saat ini menunjukkan banyak orang mengaku sebagai Muslim, namun belum sepenuhnya mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, para orang tua diharapkan mampu memberikan pengawasan yang bijak terhadap penggunaan teknologi, khususnya gawai, agar tidak menggeser nilai-nilai pendidikan dan nasihat dari orang tua maupun guru.
“Jangan sampai anak-anak lebih mendengar ‘nasihat’ dari gawai dibandingkan dari orang tua dan gurunya. Pendidikan akhlak harus tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Madrasah pun diharapkan terus menjadi benteng utama dalam mencetak generasi yang berakhlakul karimah di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara ulama, pendidik, orang tua, dan masyarakat sangat penting dalam membangun masa depan generasi yang lebih baik, beriman, dan berakhlak mulia.***
Penulis: Hasna Ismie Lutfiyah














