Penjelasan tersebut juga menjadi edukasi berharga tentang bagaimana leluhur Sunda sudah menerapkan prinsip mitigasi bencana berbasis kearifan lokal sejak masa lampau.
Penanaman Pohon, Simbol Cinta Lingkungan dan Pelestarian Budaya
Selain pembersihan, komunitas Permata Lingga juga melaksanakan aksi penanaman pohon di area pemakaman.
Aksi ini juga menjadi simbol nyata cinta lingkungan dan penghargaan terhadap sejarah Galuh.
Menurut Mumu, Ketua Permata Lingga, kegiatan tersebut melibatkan penanaman 50 pohon aren, 75 pohon manglid, dan 50 pohon pinang.
“Kami menanam bukan hanya pohon penahan air, tetapi juga tanaman bernilai ekonomi agar manfaatnya berlipat bagi masyarakat,” ujarnya.
Aksi ini menegaskan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal
Kegiatan lintas komunitas ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu memerlukan program besar.
Dengan kolaborasi sederhana, hasilnya bisa nyata dan berkelanjutan.
Kerja sama antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi model pembangunan berkelanjutan yang efektif sekaligus memperkuat kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal.
Dengan memadukan pelestarian alam dan pemahaman sejarah, warga Ciamis menjaga warisan leluhur sambil menanamkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan alam.
“Sejarah, budaya, dan lingkungan adalah satu kesatuan. Ketiganya harus dijaga demi masa depan Ciamis yang tangguh,” tutup Dodi Suparto.














