”Kami tidak melihat apakah dia ASN, PPPK, atau honorer. Di PGRI, semuanya anggota. Yang muda harus siap berlari, dan kami di pengurus siap memfasilitasi,” kata Edwar dengan antusias.
Target besar Edwar tahun ini adalah “ledakan” digitalisasi. Ia membocorkan rencana besar untuk menggelar seminar khusus mengenai pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) dan konten pembelajaran kreatif.
Cikoneng, menurutnya, telah selangkah lebih maju karena hampir 100 persen sekolah di wilayah tersebut sudah menerima bantuan perangkat digital dari pemerintah.
Belajar Sambil Bermain
Implementasi digitalisasi ini bukan tanpa alasan.
Edwar mengungkapkan hasil survei internal yang menunjukkan lonjakan proaktif siswa saat guru menggunakan fasilitas digital dalam mengajar.
Pembelajaran yang dulunya dianggap membosankan, kini berubah menjadi lebih interaktif.
”Dulu belajar perkalian mungkin hanya hafalan. Sekarang, dengan bantuan media digital, anak-anak bermain ular tangga virtual untuk menjawab soal. Mereka lebih cepat tanggap dan responsif,” jelas Edwar.
Menariknya, digitalisasi di Cikoneng tidak hanya menyasar mata pelajaran umum. Guru-guru Pendidikan Jasmani (PJOK) dan Agama pun mulai berkolaborasi menggunakan teknologi ini.
Untuk memuluskan rencana tersebut, PGRI Cikoneng berkomitmen untuk menanggung biaya pengembangan kapasitas guru melalui seminar dan webinar agar tidak membebani kantong para pendidik.
”Kami ingin guru-guru Cikoneng mulai bikin konten pembelajaran yang keren. Kita fasilitasi lewat organisasi, intinya jangan sampai biaya jadi penghalang bagi mereka untuk maju,” pungkasnya.
Pertemuan di Islamic Centre itu pun berakhir dengan optimisme baru.
Di bawah rona mentari Cikoneng, para guru pulang tidak hanya membawa maaf, tetapi juga semangat untuk mengubah ruang kelas menjadi lebih modern dan inklusif.














