“Tidak ada dukungan dari desa. Kegiatan ini murni kemauan warga RW 01, khususnya di Dusun Sukamaju. Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut untuk mempererat persaudaraan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua BPD Desa Sukamaju, Gani, menyatakan desa mengapresiasi tradisi gubyag balong ini meski tidak mendukung secara materi.
Desa hanya melaksanakan upacara, lomba voli, dan lomba kreasi makanan dari umbi untuk setiap RW.
“Setiap RW memang punya tradisi untuk memeriahkan HUT RI, termasuk gubyag balong,” katanya.
Gani juga menyoroti minimnya kegiatan olahraga, seperti sepak bola, yang menurutnya disebabkan keterbatasan lapangan dan faktor keamanan.
Tradisi Refleksi Semangat Merdeka
Gubyag Balong bukan sekadar menangkap ikan. Kegiatan sederhana ini merefleksikan semangat merdeka warga yang bergerak sendiri ketika institusi desa tampak diam.
Perayaan kemerdekaan, menurut warga, seharusnya diukur dari bagaimana semangat kebersamaan hidup di tengah masyarakat, bukan hanya dari seremonial di lapangan.
“Harapan ke depan, warga lebih antusias lagi. Minimal hadir, ikut memeriahkan. Jadi 17 Agustus ini bukan hanya upacara, tapi juga ada hiburan yang menyatukan,” pungkas Deden.














