Keputusan “gila” tersebut terbukti jitu. Pada menit ke-105, instruksi Heri untuk memainkan long ball langsung ke jantung pertahanan lawan memicu kemelut hebat. Postur tubuh Sidang Iskus yang menjulang membuat barisan belakang Batavia FC panik.
Akibat gangguan fisik dan tekanan yang diberikan Iskus dalam kemelut tersebut, pemain bertahan Batavia melakukan kesalahan fatal dengan menceploskan bola ke gawang sendiri.
Gol bunuh diri tersebut menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan menghidupkan kembali asa Laskar Singacala. Segera setelah skor imbang, Heri kembali menunjukkan ketenangannya dengan menarik Iskus kembali ke posisi aslinya untuk menjaga kedalaman.
Kematangan Mental di Babak Penalti
Kecerdasan strategi ini tak hanya berdampak pada skor, tapi juga menjatuhkan mental pemain Batavia FC. Di babak adu penalti, para pemain PSGC tampil sangat dingin.
Puncaknya, kegagalan eksekutor keenam Batavia dan keberhasilan M. Fikrom memastikan kemenangan PSGC dengan skor 6-5.
Kemenangan ini membuktikan bahwa di kompetisi seketat Liga Nusantara, kualitas fisik saja tidak cukup.
Taktik berani dan pembacaan momentum yang tepat dari pinggir lapangan adalah pembeda antara tim yang pulang dan tim yang menang.***
Penulis: Fauza














