3. Menyajikan pendapat masyarakat atau komite sekolah sebagai tambahan perspektif.
Dengan begitu, berita akan lebih kuat, lengkap, dan bebas dari tuduhan sepihak.
4. Pemilihan Judul yang Faktual dan Tidak Menghakimi
Judul berita adalah pintu masuk pembaca. Sayangnya, pada contoh berita tersebut, judul ditulis panjang, penuh huruf kapital, dan menggunakan tanda seru ganda yang terkesan provokatif.
Contoh judul yang salah:
“Tanpa keterangan tertulis Kepsek SDN 2 Sukanagara Tak Masuk Kerja; Menuai Sorotan Publik dan wajib Di Beri Binaan !!”
Judul yang benar seharusnya singkat, jelas, dan hanya memuat fakta:
“Kepsek SDN 2 Sukanagara Tidak Hadir di Sekolah, Guru Sebut Hanya Titip Pesan”
Judul seperti ini lebih aman secara hukum dan lebih sesuai dengan kode etik jurnalistik.
5. Struktur Berita: Dari Lead Hingga Penutup
Struktur penulisan berita yang benar biasanya berbentuk piramida terbalik: informasi terpenting di awal, kemudian diikuti detail pendukung.
Lead (paragraf pertama): Berisi inti peristiwa.
Kemudian, body (isi berita): Menjelaskan kronologi, keterangan narasumber, serta data pendukung.
Lalu, closing (penutup): Bisa berupa tindak lanjut, pernyataan pejabat terkait, atau kesimpulan netral.
Contoh lead yang baik untuk kasus ini:
“Kepala Sekolah SDN 2 Sukanagara, Kecamatan Jatinagara, Kabupaten Ciamis, tidak hadir di sekolah pada Sabtu (20/9/2025). Menurut keterangan seorang guru, ketidakhadiran tersebut hanya disampaikan lewat pesan tanpa surat keterangan resmi.”
6. Risiko Hukum Jika Berita Tidak Sesuai Etika
Penulisan berita yang asal-asalan tidak hanya menurunkan kredibilitas media, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah hukum.
Tuduhan tanpa dasar bisa dianggap sebagai fitnah atau pencemaran nama baik.
UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 memberikan perlindungan kepada wartawan, namun perlindungan itu hanya berlaku jika berita disusun sesuai kode etik jurnalistik.
Artinya, wartawan juga wajib menulis dengan mengutamakan fakta dan konfirmasi.
Jurnalisme yang Baik Berawal dari Etika Penulisan yang Benar
Lebih lanjut, berita SDN 2 Sukanagara adalah contoh nyata bagaimana sebuah peristiwa bisa diberitakan secara salah kaprah bila penulis tidak memahami kaidah jurnalistik.
Menulis berita yang benar bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal etika.
Utamakan juga 5W+1H, hindari opini pribadi, lakukan konfirmasi, gunakan bahasa yang jelas dan netral da hormati asas praduga tak bersalah.
Dengan prinsip-prinsip ini, wartawan bukan hanya menyajikan informasi, tetapi juga menjaga kepercayaan publik dan martabat profesi melalui etika penulisan jurnalis yang benar.














