Airlangga menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk memastikan penyediaan makanan tetap segar dan berkualitas tanpa membebani kas negara secara berlebihan.
Namun, ia memberikan catatan tebal bagi wilayah khusus.
“Program ini diarahkan untuk penyediaan makanan segar selama lima hari seminggu. Tapi kami tetap memberlakukan pengecualian untuk anak-anak di asrama, daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), dan wilayah dengan tingkat stunting yang masih tinggi,” tuturnya.
Mengejar Target Rp20 Triliun
Tak hanya sekadar memindah pos anggaran, pemerintah juga memacu kementerian dan lembaga untuk mempercepat realisasi belanja.
Melalui penajaman dan optimalisasi penggunaan dana, Airlangga memproyeksikan kebijakan “bersih-bersih” anggaran ini mampu menghasilkan penghematan murni hingga Rp20 triliun.
Rentang angka refocusing yang mencapai Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun tersebut dipandang sebagai amunisi penting dalam transformasi struktural ekonomi.
Bagi Airlangga, langkah pahit memangkas anggaran dinas dan menyesuaikan frekuensi makan gratis adalah harga yang harus dibayar demi ekonomi yang lebih efisien.
“Keseluruhan kebijakan ini adalah bagian dari upaya kami menuju ekonomi yang lebih produktif dan berdaya tahan,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Sumber: Sekretariat Negara RI














