Menurutnya, pengalaman itu menjadi pengingat penting bagi pejabat agar tidak terjebak dalam simbol kemewahan.
Ia menilai, pejabat justru seharusnya menjadi contoh efisiensi, bukan berlomba menunjukkan kemegahan.
“Yang menyedihkan bukan karena saya tidak mampu merayakan, tapi karena kita tidak sadar. Pemerintah seharusnya tidak perlu bermewah-mewahan di tengah seruan efisiensi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dicky juga menyoroti sejumlah persoalan klasik dalam birokrasi daerah.
Ia menilai, banyak perencanaan proyek yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dan lemahnya optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kalau sistemnya salah, ya harus dibenahi. Kalau ada yang tersindir, tidak masalah, yang penting memperbaiki,” ujarnya lugas.
Dicky Candra Tekankan Potensi Daerah
Selain itu, Dicky menekankan pentingnya inovasi ekonomi daerah.
Ia menyebut potensi besar seperti pengelolaan taman hutan raya, pengembangan bandara, hingga pembangunan biorama yang belum tergarap maksimal.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung persoalan infrastruktur, terutama jalan menuju Situ Gede yang rusak parah namun belum tertangani akibat keterbatasan anggaran.
“Jalan menuju Situ Gede rusak parah, kita semua tahu itu. Tapi lagi-lagi terbentur anggaran,” pungkasnya.














