“BBM berkadar oktan 90 (Pertalite) dicampur dengan BBM berkadar oktan 92 (Pertamax), lalu dijual sebagai Pertamax dengan harga lebih tinggi,” ungkap seorang penyidik.
Hasil audit sementara menunjukkan bahwa negara mengalami kerugian hingga Rp193,7 triliun pada 2023 akibat praktik ilegal ini.
Deretan Pejabat yang Jadi Tersangka, Selain SBY
Hingga kini, Kejagung telah menetapkan sembilan tersangka dalam kasus ini, di antaranya:
- Riva Siahaan – Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga
- Sani Dinar Saifuddin – Direktur Optimasi Feedstock dan Produk
- Yoki Firnandi – Dirut PT Pertamina Internasional Shipping
- Agus Purwono – VP Feedstock Management Kilang Pertamina Internasional
- Muhammad Kerry Andrianto Riza – Anak pengusaha minyak Riza Chalid
- Dimas Werhaspati – Komisaris PT Navigator Khatulistiwa
- Gading Ramadhan Joedo – Dirut PT Orbit Terminal Merak
- Maya Kusmaya – Direktur Pemasaran Pusat Pertamina Patra Niaga
- Edward Corne – VP Trading Operation PT Pertamina Patra Niaga
Penggeledahan dan Barang Bukti
Kejagung juga telah menggeledah beberapa lokasi terkait kasus ini, termasuk dua rumah mewah milik Riza Chalid di Jakarta Selatan. Dari penggeledahan tersebut, penyidik menyita uang tunai Rp833 juta, USD 1.500, serta 114 bundel dokumen penting.
Tak hanya itu, depo BBM milik PT Orbit Terminal Merak di Cilegon, Banten, juga digeledah. Fasilitas ini diduga menjadi salah satu lokasi utama dalam praktik pengoplosan BBM yang merugikan negara.














