Setelah dipotong, praktis dana yang tersisa hanya sekitar Rp150 miliar untuk dibagi-bagi ke 30 OPD, kecamatan, hingga desa.
Nol Rupiah dari Provinsi
Keterpurukan anggaran semakin terasa karena hilangnya dukungan dari pemerintah pusat maupun provinsi.
Herdiat mengungkapkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, Ciamis biasanya menerima bantuan keuangan dari Provinsi Jawa Barat minimal Rp300 miliar per tahun.
”Namun untuk tahun 2025 dan 2026 ini, bantuan dari provinsi itu nol, tidak ada sepeser pun. Provinsi sendiri sedang melakukan efisiensi hingga Rp2,4 triliun. Jadi, saya mohon maaf jika selama setahun ini kami hampir tidak bisa berbuat apa-apa untuk pembangunan jalan atau jembatan karena memang tidak ada uangnya,” tambahnya secara transparan.
Apresiasi untuk Gotong Royong Warga
Meski pemerintah daerah dalam kondisi “tangan terikat”, Herdiat mengaku bangga melihat ketangguhan masyarakat Ciamis, khususnya warga Cikoneng.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana budaya gotong royong warga mampu menggantikan peran negara yang sedang kesulitan dana.
Ia mencontohkan pembangunan jembatan dan perbaikan jalan makam yang diselesaikan warga secara swadaya.
Selain itu, Ciamis tetap mampu meraih prestasi sebagai Kota Terbersih se-ASEAN meski tanpa dukungan anggaran besar seperti kota-kota metropolitan lainnya.
”Saya sangat salut, masyarakat Ciamis ini kompaknya luar biasa. Walaupun Pemda sedang tidak punya uang, tapi semangat gotong royong bapak dan ibu tidak pernah padam. Ini yang membuat saya bahagia sekaligus terharu bisa bersilaturahmi di sini,” pungkasnya.
Sebagai penutup pengabdian di bulan suci ini, Herdiat juga menyerahkan bantuan stimulus sebesar Rp20 juta untuk kemakmuran Masjid Al Kautsar sebagai bentuk tali asih di malam pamungkas Tarling tersebut.














