Di sisi lain, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, menilai bahwa meningkatnya kerentanan anak berkaitan dengan faktor sosial yang sering kali luput dari perhatian keluarga.
“Bullying, keluarga yang tidak harmonis, kurangnya perhatian orang tua, hingga pencarian jati diri membuat anak gampang terpapar,” ucapnya.
“Selain itu, rendahnya literasi digital dan pemahaman agama juga memperbesar risiko mereka disusupi paham ekstrem,” ungkapnya.
Densus 88 Sikat Lima Perekrut yang Kendalikan Komunikasi Secara Online
Dalam pengungkapan ini, Densus 88 juga berhasil menangkap lima perekrut yang selama ini mengendalikan komunikasi jaringan melalui media sosial.
Mereka mengatur alur propaganda, mendorong anak untuk aktif di grup rahasia, dan menyuntikkan ideologi radikal secara bertahap.
“Kelima pelaku yang mengelola grup tersebut sudah kami amankan,” ujar Trunoyudo.
Identitas mereka yakni:
FW alias YT (47) dari Medan
LM (23) dari Banggai
PP alias BMS (37) dari Sleman
MSPO (18) dari Tegal
JJS alias BS (19) dari Agam
Kelima orang ini diduga berperan langsung merekrut, mempengaruhi, hingga mengarahkan anak-anak untuk terlibat dalam jejaring terorisme.
Sumber : Humas Polri














