Beberapa perwakilan mahasiswa bergantian menyampaikan tuntutan, sementara Forkopimda mendengarkan dengan seksama.
Tidak ada pagar tinggi, tidak ada jarak formalitas – hanya tikar lapangan dan lingkaran dialog.
Langkah ini dianggap banyak pihak sebagai wajah baru komunikasi pemerintah daerah dengan rakyatnya.
“Kalau pola ini dipertahankan, saya yakin ketegangan demo bisa diredam, dan aspirasi masyarakat akan lebih mudah tersampaikan,” kata salah seorang tokoh masyarakat yang turut hadir.
Kapolres pun menegaskan, ruang dialog seperti ini akan terus dibuka.
“Kami ingin setiap suara rakyat tidak hanya berhenti di jalanan. Mari kita jaga kondusivitas Garut dengan saling menghormati,” ujarnya.
Aksi yang semula panas akhirnya berakhir damai. Bukan dengan dorongan barikade, melainkan dengan duduk bersama di atas tanah, membuktikan bahwa demokrasi tak harus selalu berwujud benturan, tapi bisa menjadi ruang temu yang menyejukkan.














