Angka penanganan kasus oleh instansi terkait pun diklaim menyentuh 100%.
Artinya, hampir tidak ada laporan kekerasan atau masalah anak yang tidak direspons oleh pemerintah.
Namun, Raden Ine Anggiasari dari Bapperida Ciamis memberikan catatan penting.
Dengan 82,67% penduduk usia dini yang sudah melek internet, tantangan baru muncul: pengawasan ruang digital.
“Internet adalah peluang sekaligus ancaman. Di sini peran pengasuhan berkualitas menjadi kunci,” ungkap Ine.
Realitas yang Masih Mengganjal
Di balik tren positif tersebut, Ine tak menampik bahwa jalan menuju “Layak Anak” yang ideal masih terjal.
Beberapa angka masih menjadi ganjalan serius:
Stunting: Masih di angka 20,3%, yang artinya satu dari lima balita masih terancam gagal tumbuh.
Pendidikan: Rata-rata lama sekolah baru di angka 8,23 tahun (setara kelas 2 SMP).
Pernikahan Dini: Rata-rata usia kawin pertama di angka 19,8 tahun, yang masih sangat rentan dari sisi kesiapan mental dan ekonomi.
KLA Ciamis Menuju Tatar Galuh yang Ramah Anak
Kini, strategi Ciamis adalah menyatukan semua lini. KLA bukan lagi “proyek” satu dinas, melainkan bagian dari dokumen perencanaan daerah yang selaras dengan misi nasional Asta Cita Presiden.
Targetnya jelas: memperkuat pengasuhan keluarga, mempertajam sistem pemantauan, dan memastikan penanganan kekerasan berjalan lebih responsif.
Melalui rakor ini, Pemkab Ciamis ingin membuktikan bahwa Kabupaten Layak Anak bukan sekadar pajangan sertifikat di dinding kantor bupati, melainkan rasa aman yang nyata dirasakan oleh setiap anak yang bermain di sudut-sudut Tatar Galuh.














