“Langkah seperti pembagian makanan, hiburan islami, pasar murah hingga bantuan sosial merupakan bentuk nyata bahwa Polri hadir dengan sentuhan kemanusiaan. Ini menjadi nilai tambah dalam menciptakan rasa aman sekaligus kenyamanan bagi para pemudik,” jelasnya.
Ia juga menilai bahwa inovasi “memanjakan pemudik” dengan fasilitas yang layak dan suasana religius merupakan langkah progresif yang patut diapresiasi. Selain menjaga kelancaran arus lalu lintas, pendekatan ini mampu mengurangi kelelahan dan stres selama perjalanan.
Lebih lanjut, Fadlan berharap inovasi tersebut tidak hanya berhenti sebagai program musiman, tetapi dapat menjadi budaya pelayanan yang berkelanjutan di tubuh kepolisian.
“Ke depan, kami berharap inovasi seperti ini bisa terus dikembangkan dan menjadi standar pelayanan publik yang humanis. Ini selaras dengan semangat pelayanan yang berpihak kepada masyarakat,” tambahnya.
Sebagai organisasi mahasiswa yang berlandaskan nilai-nilai kerakyatan, GMNI Kabupaten Ciamis menyatakan siap untuk terus mengawal dan mendorong praktik pelayanan publik yang progresif, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
Momentum Operasi Ketupat Lodaya 2026 di Ciamis pun menjadi bukti bahwa pelayanan publik yang mengedepankan nilai kemanusiaan mampu menciptakan kepercayaan serta kedekatan yang kuat antara institusi negara dan masyarakat.***














