Melalui teknologi insinerator modern, sampah dibakar habis untuk menggerakkan turbin listrik, sementara asapnya dikelola ketat agar tidak menjadi polusi udara.
Dukungan Bank Dunia untuk Skema Menengah
Lalu, bagaimana dengan daerah yang kapasitas sampahnya lebih kecil? Pemerintah tidak tinggal diam. Untuk daerah dengan kapasitas 100-120 ton, telah disiapkan program Local Service Delivery Project.
Program ini merupakan kolaborasi antara KLH, Kemendagri, dan Bappenas dengan dukungan pendanaan dari Bank Dunia.
Saat ini, pemerintah sudah mengantongi 65 daftar target daerah, meski nantinya hanya 30 daerah yang akan dipilih untuk dibiayai infrastruktur pengolahannya.
Cuan dari Hulu: Aplikasi Digital dan Maggot
Selain proyek raksasa, Mendagri juga mendorong digitalisasi sampah di tingkat rumah tangga.
Ia mengapresiasi munculnya startup yang memungkinkan warga menjual sampah plastik lewat aplikasi, yang pembayarannya langsung masuk ke rekening bank daerah.
Bahkan, untuk sampah organik, pemerintah mendorong penggunaan teknologi biokonversi menggunakan lalat Black Soldier Fly (BSF).
Belatung atau maggot yang dihasilkan bisa dipanen untuk pakan ternak dan ikan, sehingga menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang nyata.
“Ini adalah wake up call. Sampah itu uang. Dari hulu masyarakat bergerak lewat aplikasi dan maggot, di hilir pemerintah siapkan teknologi PSEL. Kalau ini konsisten, TPA kita tidak akan lagi kelebihan beban,” pungkas Tito.














