CIAMIS,Kondusif.com,- Di balik euforia konvoi kemenangan PSGC Ciamis pada Senin (9/2/2026), sosok Heri Kiswanto berdiri dengan senyum puas namun tetap membumi. Pelatih kawakan yang akrab disapa Herkis ini berhasil menuntaskan misi besar membawa Laskar Galuh naik kasta ke Liga 2.
Namun, ia mengakui bahwa perjalanan di Liga 3 kemarin bukanlah perkara mudah, melainkan sebuah ujian “seni” melatih yang sesungguhnya.
Seni Menjinakkan Grafis “Labil”
Berkecimpung di kasta ketiga sepak bola Indonesia memberikan tantangan unik bagi Herkis.
Regulasi yang mewajibkan kombinasi pemain junior dan senior menuntutnya untuk tidak hanya menjadi pelatih taktik, tetapi juga psikolog bagi para pemain muda.
”Karakteristik Liga 3 ini beda karena ada regulasi pemain junior dan senior. Ini unik sekaligus menantang,” ungkap Herkis saat ditemui di Pendopo Bupati Ciamis.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal fisik, melainkan menjaga mental pemain muda yang grafis performanya seringkali naik-turun atau labil.
”Menghadapi pemain muda itu tidak bisa dengan amarah. Harus pakai seni. Kalau mereka tiba-tiba bermain tidak sesuai harapan, kita approach dengan bicara baik-baik. Itulah seninya, bagaimana mengolah mental mereka sampai akhirnya tim ini menjadi solid,” tambahnya dengan antusias.
Melewati Grup Neraka
Mengingat perjuangan di fase grup, Herkis tidak menampik bahwa tekanan yang dihadapi sangatlah hebat.
Ia menggambarkan persaingan di grup PSGC sebagai tantangan yang sangat berat untuk dilalui.
Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, ia terus memacu anak asuhnya melalui evaluasi dan analisa harian.














