banner 720x220

Bukan Sekadar Seremonial, Ini Makna Mendalam Peringatan Nuzulul Qur’an di Malam 17 Ramadan

Foto Ilustrasi (kondusif.com/fauza)
Foto Ilustrasi (kondusif.com/fauza)

Fase pertama adalah saat ia turun secara utuh ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar.

Namun, fase kedua adalah saat ayat-ayat itu mulai menyentuh hati Rasulullah ﷺ di bumi dan banyak riwayat kuat menunjuk pada tanggal 17 Ramadan sebagai awal mula transformasi besar itu.

​Maka, merayakan malam ke-17 adalah merayakan “pertemuan” antara kehendak Tuhan dan realitas manusia.

Ini adalah momen untuk kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk media sosial dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah Al-Qur’an menjadi ‘pembeda’ (Furqan) dalam cara kita berpikir dan bertindak?

​Menghidupkan Nuzulul Qur’an Malam ke-17 Ramadan

​Jangan biarkan malam ini lewat begitu saja sebagai rutinitas.

Bayangkan keheningan di Gua Hira atau kegentingan di tenda Rasulullah ﷺ saat malam Badar, di mana beliau berdoa begitu khusyuk hingga selendangnya terjatuh.

​Kita tidak perlu memegang pedang seperti di Badar.

“Badar” kita hari ini adalah melawan kemalasan, melawan hoaks, dan melawan kerasnya hati sendiri.

Jadikan malam ke-17 ini sebagai momen recharge. Bacalah satu atau dua ayat, pahami artinya seolah-olah Tuhan sedang berbicara langsung kepada Anda malam ini, dan mintalah kemenangan atas segala kesulitan yang sedang Anda hadapi.

​Sebab, sebagaimana Badar membuktikan bahwa yang sedikit bisa menang atas yang banyak dengan izin-Nya, masalah Anda yang besar pun bisa mengecil di hadapan kekuasaan-Nya.

 

(Berbagai Sumber)

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *