banner 720x220

Bukan Sekadar Seremonial, Ini Makna Mendalam Peringatan Nuzulul Qur’an di Malam 17 Ramadan

Foto Ilustrasi (kondusif.com/fauza)
Foto Ilustrasi (kondusif.com/fauza)

Khazanah,Kondusif.com,- Nuzulul Qur’an, Malam ini, suasana terasa sedikit berbeda. Jika kita menilik kalender, bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia yang memulai puasa pada 19 Februari lalu, malam Sabtu ini 6 Maret 2026 adalah gerbang menuju malam ke-17 Ramadan.

Sebuah angka yang bukan sekadar urutan tanggal, melainkan sebuah simpul besar dalam sejarah peradaban manusia.

​Ada alasan mengapa atmosfer malam ke-17 selalu terasa lebih khidmat.

Di sinilah narasi besar Islam bertemu dalam satu titik: turunnya wahyu pertama di Gua Hira dan meletusnya Perang Badar di padang pasir yang membara.

​Wahyu dan Perjuangan

​Banyak dari kita tumbuh dengan narasi bahwa Nuzulul Qur’an adalah peringatan turunnya ayat Iqra’.

Namun, pernahkah kita merenungkan mengapa para ulama terdahulu, seperti Ibnu Katsir atau Al-Waqidi, begitu kuat mengaitkan momen ini dengan 17 Ramadan?

​Kuncinya ada pada penyebutan Yaumul Furqan hari pembeda dalam Al-Qur’an.

Tanggal ini menjadi saksi ketika langit “berbicara” kepada bumi melalui Jibril, sekaligus saksi ketika 313 orang dengan perlengkapan seadanya mampu menumbangkan ego ribuan kaum musyrikin di Lembah Badar.

​Ini adalah pesan yang sangat organik untuk kita hari ini: Bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan untuk sekadar dibaca dengan nada indah di atas panggung, melainkan untuk menjadi kekuatan nyata dalam “pertempuran” hidup kita sehari-hari.

Jika 313 orang di Badar bisa menang karena memegang teguh prinsip wahyu, lantas mengapa kita yang memegang mushaf yang sama seringkali merasa kalah oleh rasa cemas dan keputusasaan?

​Dialektika Tanggal: Sebuah Perjalanan Spiritual

​Tentu, ada diskusi ilmiah yang menarik di kalangan para ahli sejarah.

Jika kita membaca Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Syeikh Safiyurrahman Al-Mubarakfuri, ada pendapat yang menyebutkan wahyu pertama mungkin turun di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir.

Namun, tradisi memperingati 17 Ramadan memiliki akar filosofis yang sangat dalam.

​Ulama menjelaskan bahwa ada dua fase turunnya Al-Qur’an.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *