Menteri ATR sekaligus Ketua MUI, Nusron Wahid, menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup telinga terhadap keraguan masyarakat.
“Kita tidak anti-kritik. Pemerintah terus mencermati keadaan, namun kami ingin membuktikan bahwa diplomasi adalah jalan terbaik, bukan peperangan,” tegas Nusron.
Rem Darurat untuk Deeskalasi
Dukungan senada datang dari Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Ia memandang BoP sebagai instrumen strategis untuk meredam ketegangan segitiga antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Bahkan, Gus Yahya mengusulkan langkah taktis jika situasi memanas:
Menjadikan BoP sebagai alat tawar: Indonesia bisa mengusulkan agar agenda BoP ditunda (on hold) sampai ada pembicaraan deeskalasi nyata.
Wahana Perdamaian: Memanfaatkan keanggotaan negara-negara Timur Tengah lainnya di BoP untuk menekan penghentian konflik.
Melalui pertemuan ini, Presiden Prabowo berhasil merangkul para ulama untuk menyamakan persepsi.
Pesan utamanya jelas: Indonesia sedang melakukan eksperimen diplomasi tingkat tinggi berusaha menjadi “jangkar” perdamaian dengan cara masuk ke pusat pusaran, bukan hanya menonton dari pinggiran.














