”Menghadapi pemain muda itu ada seninya. Grafis permainan mereka labil, kadang naik dan turun. Jadi, kalau performa mereka tidak sesuai harapan, jangan dimarahi, tapi kita dekati dengan cara yang baik,” jelasnya. Pendekatan persuasif inilah yang pelan-pelan menyulap skuad PSGC menjadi unit yang solid dan mampu melewati tekanan hebat di “grup neraka” musim lalu.
Dukungan Suporter: Kuat Saat Sukses Maupun Sulit
Meski membidik kasta tertinggi, Herkis memberikan catatan penting bagi masyarakat bola Ciamis.
Ia menekankan bahwa mental pemain sangat bergantung pada atmosfer di tribun. Harapannya, suporter bisa tetap setia mendampingi tim dalam kondisi apa pun.
”Dukungan masyarakat harus tetap sama, baik saat tim sukses maupun sedang tidak sukses. Mental pemain itu tidak semuanya kuat, ada yang langsung drop kalau dicemooh. Jika kita semua bisa bekerja sama dan saling dukung, jalan menuju kasta tertinggi itu sangat mungkin terbuka,” tambahnya.
Isyarat “Ngaso” Sebelum Perang Baru
Menariknya, saat ditanya mengenai persiapan teknis menghadapi Liga 2 yang lebih kompetitif, Herkis memilih untuk sedikit menarik napas.
Sambil tertawa, ia mengisyaratkan ingin beristirahat sejenak sebelum kembali menyusun strategi besar.
”Saya mau ngaso dulu, mau istirahat dan bicara dulu sama keluarga. Tapi yang jelas, hidup saya di bola, tidak mungkin berhenti. Hanya saja, untuk Liga 2, kita jangan bicara sekarang dulu ya,” pungkasnya sambil tertawa ringan.














