banner 720x220
News  

Benarkah Mitra MBG Untung Rp1,8 Miliar? Begini Penjelasan Gamblang BGN

Foto: Humas BGN
Foto: Humas BGN

JAKARTA,Kondusif.com,- Belakangan ini, ruang publik riuh oleh simpang siur informasi mengenai “durian runtuh” di balik Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi isu insentif tambahan Rp6 juta di luar pagu serta narasi mitra MBG yang meraup laba bersih Rp1,8 miliar per tahun, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya angkat bicara untuk meluruskan persepsi yang menyesatkan tersebut.

​Bukan Mesin Pencetak Uang

​Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menegaskan bahwa program ini murni merupakan instrumen pelayanan publik, bukan skema bisnis untuk mencari keuntungan instan.

Alih-alih menjadi ajang memperkaya diri, penyelenggaraan MBG justru menuntut tata kelola yang sangat akuntabel dan standar mutu yang ketat.

​”Kami perlu meluruskan bahwa angka Rp1,8 miliar itu adalah pendapatan kotor maksimal, bukan keuntungan bersih,” ujar Sony pada Rabu (25/2).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendapatan tersebut masih harus dipotong untuk biaya investasi, penyusutan aset, hingga biaya operasional harian yang tidak sedikit.

​Membedah Struktur Anggaran

​Untuk memahami alurnya, kita perlu melihat Petunjuk Teknis (Juknis) BGN Nomor 401.1 Tahun 2025.

Di sana tertulis jelas bahwa alokasi rata-rata Rp15.000 per porsi sudah bersifat final.

Artinya, nilai tersebut sudah mencakup semua komponen, mulai dari bahan baku hingga insentif fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

​Sementara itu, insentif Rp6 juta per hari yang sering disalahartikan sebenarnya merupakan bagian terintegrasi dari pagu Rp15.000 tersebut.

Jika satu SPPG melayani 3.000 orang, maka insentif itu setara dengan Rp2.000 per porsi. Dengan demikian, tidak ada “uang tambahan” di luar anggaran yang sudah ditetapkan pemerintah.

​Investasi Jumbo di Balik Dapur Industri

​Selain itu, masyarakat perlu mengetahui bahwa menjadi mitra BGN menuntut modal yang sangat besar di awal.

Mitra wajib merogoh kocek pribadi sekitar Rp2,5 miliar hingga Rp6 miliar hanya untuk membangun fasilitas sesuai standar.

​Maka dari itu, pendapatan kotor Rp1,8 miliar per tahun tersebut sebenarnya digunakan untuk menutup modal besar tersebut. Fasilitas yang dibangun pun tidak main-main, meliputi:

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *