Menagih Visi Prabowo-Gibran: BEM Nusantara menagih janji “Membangun dari Pinggiran”.
Meskipun Luwu Raya kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), birokrasi yang terlalu panjang menghambat pemanfaatan kekayaan tersebut untuk kesejahteraan rakyat.
Menjaga Stabilitas Sosial: Pemerintah Pusat harus segera memberikan kepastian agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara tetap terjaga.
“Kami di BEM Nusantara berdiri bersama rakyat Luwu. Ini bukan soal memecah belah, melainkan menunaikan janji sejarah sejak era Orde Lama. Presiden Prabowo harus membuktikan bahwa kepemimpinannya hadir sebagai pendengar bagi daerah yang selama ini terabaikan,” tegas Mahliga.
Desak Pencabutan Moratorium Khusus
Selain mendesak restu Presiden, BEM Nusantara menyoroti hambatan teknis berupa moratorium pemekaran daerah.
Mahliga meminta pemerintah melakukan kajian khusus atau memberikan diskresi bagi Luwu Raya. Secara geografis, administratif, dan kemandirian ekonomi, wilayah ini dianggap sudah sangat layak untuk berdiri sendiri.
Pernyataan sikap ini menjadi awal dari pengawalan panjang BEM Nusantara.
Jika Istana tidak memberikan respons konkret dalam waktu dekat, mereka berencana menggalang konsolidasi nasional bersama elemen mahasiswa lainnya untuk memperkuat gerakan kolektif hingga aspirasi rakyat Luwu benar-benar terwujud.














