Ke-enam, anak belum cukup umur? Jangan bawa motor! Ayo biasakan jalan kaki atau naik angkutan umum.
Namun, ada pengecualian, bagi peserta didik di daerah terpencil, diberikan toleransi sebagai upaya untuk memudahkan daya jangkau peserta didik dari rumah menuju ke sekolah.
Ketujuh, tanamkan rasa cinta tanah air. Kegiatan seperti Pramuka dan Paskibra jadi wadah wajib.
Kedelapan, anak ‘nakal’ dibina, bukan dihukum. Ada pembinaan khusus bersama TNI dan Polri bagi siswa yang sering tawuran, mabuk, balapan, dll.
Kesembilan, akhirnya, pendidikan agama diperkuat. Moral dan spiritual siswa jadi prioritas.
Dengan gaya khasnya yang lugas dan membumi, Dedi Mulyadi kembali menunjukkan bahwa reformasi pendidikan tak cukup di atas kertas.
Perubahan harus nyata, menyentuh langsung perilaku dan karakter peserta didik.
Kebijakan ini akan diuji di lapangan. Apakah sekolah siap? Apakah orang tua setuju? Yang jelas, dunia pendidikan Jabar sudah masuk babak baru dan semuanya dimulai dari tangan“Bapak Aing”














