Eggy menjelaskan bahwa tim penguji menyisir seluruh aspek produksi secara menyeluruh. Petugas laboratorium tidak hanya memeriksa bahan baku seperti protein hewani dan sayuran, tetapi juga mengaudit kebersihan peralatan masak hingga kesehatan para relawan.
Waspadai Kualitas Air Sumur
Di tengah proses verifikasi tersebut, kualitas air muncul sebagai tantangan paling krusial.
BGN Ciamis menemukan bahwa penggunaan air sumur kerap menjadi batu sandungan yang menyebabkan kegagalan uji laboratorium.
Sebagai langkah antisipasi, Eggy mendorong tiap unit untuk beralih menggunakan air galon isi ulang yang kualitasnya lebih stabil.
“Air adalah komponen paling rawan. Kami menyarankan air galon agar hasil uji lebih aman dan risiko kontaminasi bisa kita tekan seminimal mungkin,” tambahnya.
Proses uji laboratorium ini memakan waktu 8 hingga 14 hari. Jika ditemukan parameter yang tidak memenuhi syarat.
BGN akan memerintahkan pengujian ulang hingga standar keamanan terpenuhi.
Menjamin Gizi dari Panci hingga Piring
Setelah semua prosedur administratif dan laboratorium rampung, BGN akan melakukan uji petik langsung pada masakan yang siap distribusikan.
Skema ini bertujuan memastikan bahwa gizi yang sampai ke tangan masyarakat tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga higienis.
Melalui pengawasan ketat ini, BGN Ciamis optimistis seluruh SPPG dapat segera beroperasi. Fokus utamanya jelas: menghadirkan layanan pemenuhan gizi masyarakat yang optimal tanpa mengabaikan aspek keselamatan pangan sedikit pun.














