Menurut penyidik, dendam tersebut meledak ketika Alex membawa Alvaro dari masjid. Bocah itu terus menangis, dan hal itu memicu kemarahan pelaku.
“Pelaku mengaku membekap korban karena kesal korban menangis terus. Dari situ korban tidak bisa bernapas hingga meninggal,” tambahnya.
Setelah menghabisi anak tirinya, Alex menyimpan jasad Alvaro selama tiga hari sebelum membuangnya di daerah Tenjo.
Tindakannya disusun rapi sehingga selama delapan bulan keluarga dan polisi terus mencari keberadaan Alvaro tanpa hasil.
Tragedi Berlapis: Hilang, Meninggal, kemudian Pelaku Pun Mengakhiri Hidup
Kasus ini kini berubah menjadi tragedi berlapis. Polisi masih menuntaskan sejumlah pemeriksaan terkait kematian pelaku.
Termasuk keterangan petugas jaga, rekaman CCTV, dan hasil pemeriksaan forensik internal.
Namun yang pasti, menurut polisi, kematian Alex tidak terjadi dalam ruang tahanan, seperti tudingan sebagian pihak, melainkan saat proses konseling penyidikan.
Polda Metro Jaya menegaskan akan tetap menuntaskan seluruh rangkaian kasus hingga terang benderang, termasuk memastikan tidak ada kelalaian prosedur dalam penanganan tersangka.














