Kapolres mendorong kedua mempelai untuk menunaikan tanggung jawab mereka sebagai orang tua.
“Saya ingin mereka menikah sah, agar bisa merawat anaknya dengan baik dan mendapat restu secara agama maupun sosial,” ujarnya.
Dari Jeruji ke Janji Suci
Bagi keduanya, perjalanan menuju pelaminan tidak mudah. Mereka harus melalui pemeriksaan hukum dan tekanan sosial yang berat.
Namun hari itu, di tengah ruangan tempat biasanya perkara hukum dibahas, justru lahir sebuah peristiwa penuh makna: pernikahan yang menjadi simbol penyesalan dan harapan.
“Bulan madunya di Polres dulu,” canda Kapolres, disambut senyum malu dari kedua mempelai dan tawa kecil para hadirin.
Momen itu mengubah suasana menjadi hangat, seolah memberi napas baru bagi pasangan muda tersebut.
Awal Baru, Harapan Baru
Arif dan Putri kini berharap bisa menjalani hidup lebih baik setelah proses hukum mereka selesai.
“Semoga kami diberi kesempatan membesarkan anak kami dan memperbaiki semua yang sudah terjadi,” ujar Arif penuh harap.
Mereka sadar perjalanan ke depan tidak mudah. Namun dukungan keluarga, aparat, dan doa masyarakat menjadi semangat untuk bangkit dari kesalahan.
Pernikahan di Polres Ciamis itu bukan sekadar penyatuan dua hati, tapi juga simbol bahwa setiap manusia, seburuk apa pun masa lalunya, masih punya kesempatan untuk menebus dosa dengan tanggung jawab dan cinta.














