CIAMIS,Kondusif.com,- Pukul menunjukkan 00.30 WIB, Sabtu, 8 Agustus 2026. Jalanan di pusat Kota Ciamis nyaris lengang. Sebagian besar pertokoan telah memadamkan lampunya. Kendaraan hanya sesekali melintas, memecah sunyi yang mulai menyelimuti kota.
Di bawah temaram lampu jalan, seorang pria masih berdiri di samping gerobak cuanki. Sesekali matanya menyapu arah jalan raya, berharap ada seseorang yang menghampiri.
Bukan untuk sekadar bertanya harga, tetapi membeli semangkuk cuanki yang masih tersisa.
Pria itu adalah Wanto, 47 tahun.
Sudah hampir sebelas jam ia berjualan hari itu. Wajahnya tampak letih, tetapi ia belum juga beranjak pulang.
Baginya, menunggu satu pembeli lagi bisa berarti tambahan uang untuk keluarga yang menantinya di Garut.
Wanto berasal dari Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut. Sudah lebih dari lima tahun ia mengontrak di Ciamis demi mencari penghidupan.
Empat tahun terakhir, ia berjualan cuanki keliling.
Sebelum menetap di Ciamis, ia juga pernah mengadu nasib sebagai penjual cuanki selama enam tahun di Bandung.
Merantau membuatnya harus hidup berjauhan dengan keluarga. Ia hanya bisa pulang sebulan sekali.
Kerinduan kepada istri dan anak-anak harus ia pendam agar dapur di rumah tetap mengepul.
“Demi anak istri, saya harus bertahan,” katanya pelan.
Rutinitasnya pun berubah. Jika dulu ia mulai berjualan sejak pagi, kini Wanto baru mendorong gerobaknya sekitar pukul 14.00 WIB.
Ia baru berhenti ketika malam telah berganti hari.
Bahkan malam itu, saat jarum jam melewati pukul 00.30 WIB, ia masih menunggu pembeli terakhir.
Ketika Pelanggan Utama Tak Lagi Datang
Perubahan jam kerja itu bukan tanpa alasan. Wanto mengaku penjualannya menurun sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan di sejumlah sekolah.
Selama bertahun-tahun, pelajar menjadi pelanggan paling setia.
Ketika bel istirahat berbunyi, gerobaknya hampir tak pernah sepi. Anak-anak sekolah membeli cuanki untuk mengganjal perut sebelum kembali ke kelas.
Kini suasana itu berubah.
“Dulu waktu istirahat anak sekolah banyak yang jajan. Sekarang pas ada MBG, mereka sudah makan, jadi yang beli jauh berkurang,” ujarnya.
Perubahan itu terasa langsung pada omzet hariannya. Sebelum ada MBG, Wanto mampu menjual sekitar 1.500 butir cuanki setiap hari. Kini, jumlahnya turun menjadi sekitar 700 butir pun belum tentu habis.
Penurunan penjualan membuat penghasilannya ikut menyusut.
Wanto bukan pemilik gerobak yang ia dorong setiap hari. Ia bekerja dengan sistem bagi hasil.
Sebanyak 60 persen hasil penjualan menjadi hak pemilik gerobak sekaligus pemasok cuanki, sedangkan ia memperoleh 40 persen.
Namun, bagian itu bukan keuntungan bersih. Dari 40 persen tersebut, ia masih harus mengeluarkan biaya untuk membeli gas, plastik kemasan, dan bumbu.
“Kalau laku seribu butir, bagian saya sekitar Rp400 ribu. Tapi itu masih kotor karena masih dipakai beli gas, plastik, sama bumbu,” katanya.
Setelah dipotong seluruh biaya operasional, uang yang benar-benar bisa dibawa pulang rata-rata hanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari.
Jumlah itu menjadi penopang hidup keluarganya.
Perjuangan Seorang Ayah Tak Pernah Selesai
Di Garut, ada keluarga yang selalu menunggu kepulangannya.
Anak sulung Wanto telah berkeluarga. Anak keduanya kini merantau untuk bekerja di luar kota.














