CIAMIS,Kondusif.com,- Riuh rendah tudingan pungutan liar (pungli) di Jembatan Cirahong yang viral di media sosial memicu reaksi keras dari pemerintah desa setempat dan pengguna jalan.
Alih-alih sepakat dengan tuduhan tersebut, para tokoh masyarakat justru pasang badan membela para relawan yang selama puluhan tahun menjaga jembatan peninggalan Belanda tersebut.
”Lebih Banyak Manfaat daripada Mudaratnya”
Kepala Desa Cilangkap, H. Unung, menegaskan bahwa keberadaan para pemuda yang mengatur lalu lintas di jembatan penghubung Ciamis-Tasikmalaya tersebut didasari atas azas manfaat.
Menurutnya, kondisi jembatan yang sempit tidak memungkinkan kendaraan melintas dua arah secara bersamaan tanpa pengaturan manual.
”Kalau tidak ada yang mengatur di ujung dan ujung, kendaraan bisa terjepit (perwis) di tengah jalan. Dulu pernah kejadian, suasananya jadi kacau karena ego masing-masing pengemudi. Anak-anak di sana itu niatnya membantu agar pengguna jalan aman,” ujar H. Unung saat memberikan keterangan, Senin (6/4).
H. Unung juga menambahkan bahwa peran relawan tersebut jauh melampaui sekadar mengatur lalu lintas.
Dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya ada empat upaya percobaan bunuh diri di jembatan tersebut yang berhasil digagalkan oleh kesigapan para penjaga.
”Soal uang Rp2.000 itu bukan paksaan. Kalau tidak punya, ya silakan lewat. Anggap saja itu sedekah untuk mereka yang menjaga keamanan kita siang malam,” tambahnya.
Kritik untuk Tokoh Publik
Senada dengan H. Unung, Kepala Desa Margaluyu, Dian Cahyadinata, SH, memberikan tanggapan kritis terhadap pihak-pihak yang melontarkan tudingan pungli tanpa melihat konteks sejarah dan lapangan.














