banner 720x220

Ketupat dan Kuah Opor: Simfoni Kerinduan yang Selalu Dinanti Setiap Syawal

Foto: ilustrasi
Foto: ilustrasi

Kuliner,Kondusif.com,- Ketupat, Bagi banyak keluarga di Indonesia, ritual merayakan Idulfitri tidak dimulai saat salat Id di lapangan, melainkan beberapa hari sebelumnya.

Tepatnya saat jemari para ibu dan nenek mulai lincah menari, menyisipkan helai demi helai janur kuning hingga membentuk kotak-kotak presisi.

Aroma khas janur yang direbus berjam-jam itulah yang sebenarnya menjadi “alarm” pertama bahwa kemenangan telah tiba.

​Bukan Sekadar Pengganti Karbohidrat

​Memang benar, ketupat adalah sumber karbohidrat.

Namun, menyebutnya sekadar “nasi dalam bungkus daun” rasanya sangat tidak adil. Tekstur ketupat yang kenyal dan padat memberikan sensasi ngunyah yang berbeda.

Ada rasa gurih tipis yang meresap dari janur ke dalam bulir beras, menciptakan aroma tanah dan daun yang tidak akan pernah Anda dapatkan dari rice cooker.

​Menyantapnya pun ada seninya. Ketupat harus dipotong diagonal, membiarkan sudut-sudutnya yang tajam bertemu dengan siraman kuah opor ayam yang kuning kental.

Begitu kuah santan itu membasahi pori-pori ketupat, di sanalah keajaiban rasa terjadi.

Apalagi jika ditambah taburan bawang goreng yang melimpah dan kerupuk udang yang renyah; setiap suapannya seolah merayakan rindu yang tuntas setelah sebulan penuh berpuasa.

​”Ngaku Lepat” yang Menyatukan

​Menariknya, tradisi ini bukan muncul tanpa alasan. Sejarah mencatat bahwa Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai media dakwah yang cerdas.

Dalam bahasa Jawa, “Kupat” adalah akronim dari Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *