YOGYAKARTA,Kondusif.com,- Gelombang protes mahasiswa terhadap karut-marut sistem pendidikan Indonesia kembali memuncak. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi mendeklarasikan pernyataan sikap bertajuk “Kegagalan Sistemik Pendidikan Nasional” di Yogyakarta, Sabtu (21/2/2026).
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa mengecam arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin melenceng dari cita-cita keadilan sosial.
Mereka menilai, dunia pendidikan saat ini tidak lagi menjadi ruang pembebasan, melainkan alat kepentingan penguasa.
Disandera Birokrasi dan Komersialisasi
Koordinator Daerah BEM Nusantara DIY, Muhammad Miftahun Ni’am, menegaskan bahwa potret pendidikan nasional kini sangat memprihatinkan.
Menurutnya, sistem pendidikan saat ini juga tengah “disandera oleh kepentingan elite” dan terjebak dalam pusaran birokrasi yang kaku.
”Kebijakan digitalisasi dan standarisasi administratif justru menjadi beban berat bagi guru dan dosen. Alih-alih meningkatkan kualitas, tenaga pendidik kita dipaksa lebih sibuk mengisi laporan aplikasi ketimbang membangun relasi kemanusiaan dengan siswanya,” ujar Ni’am dalam orasinya.
Kritik Keras PTN-BH dan ‘Pinjol’ Pendidikan
Tak hanya masalah administratif, BEM Nusantara DIY juga menyoroti komersialisasi di sektor pendidikan tinggi.
Mereka mengkritik keras status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang dianggap sebagai jalan pintas bagi negara untuk lepas tangan dalam pembiayaan pendidikan publik.
Dampaknya, lonjakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga munculnya skema pinjaman pendidikan (pinjol pendidikan) menjadi beban baru bagi rakyat.
Di sisi lain, tekanan mental di kalangan pelajar juga menjadi sorotan.














